Ada Cinta yang Jatuh di Lombok

Sudah sekitar 4 tahun saya tinggal di pulau Lombok, pulau cantik yang dikenal sebagai pulau 1000 masjid. Meski awalnya terasa sangat sulit beradaptasi, lama kelamaan saya mulai betah dan semakin tahu cara menikmati tinggal di pulau ini.

Di awal-awal kedatangan, saya merasa pulau Lombok sangat sepi. Terutama jika dibandingkan dengan kota Makassar dan Balikpapan, tempat saya tinggal sebelumnya. Hampir-hampir saya merasa tidak punya harapan di sini. Tapi semakin ke-sini, semakin banyak bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang lokal, semakin sering saya mengunjungi tempat-tempat menarik, semakin saya menyadari bahwa ada sesuatu yang spesial di pulau ini. Sesuatu yang membuat saya… jatuh cinta.

Banyak kawan yang sering kali menanyakan kesan saya tinggal di pulau Lombok. Saya hanya menjawab, “tingkat stress di sini sangat rendah”. Alasannya, tentu saja wilayah Lombok yang belum terlalu padat penduduk, serta banyaknya tempat-tempat menarik untuk meredakan sejenak beban pikiran. Sangat jarang saya temui kemacetan di sini. Warganya adem-ayem. Mereka lebih suka memancing ikan atau berinteraksi dengan burung, ketimbang mengurusi urusanmu. Atau bukit-gunungnya yang sejuk dan banyak dialiri sungai dan air terjun. Serta pantai-pantainya yang keindahannya menghipnotismu, hingga kau cuma bisa berkata “Subhanallah…“.

Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama di Pantai-pantai Selatan

Pertama kali mengunjungi wilayah bagian selatan Lombok, saya mengunjungi Selong Belanak, sebuah pantai yang membuat saya penasaran setelah seorang supir taksi bandara dengan semangatnya bercerita tentang keindahan pantai ini dengan pasir putihnya, serta orang-orang yang mulai ramai belajar surfing di sana. Maka, beberapa hari kemudian ketika waktu sedikit luang, saya menyempatkan diri memenuhi rasa penasaran saya itu.

Benar saja, setibanya di Pantai Selong Belanak, mata saya langsung terbelalak. Wuoh, pantainya putih bersih, garis pantainya panjang melengkung, di masing-masing sudut garis pantai terdapat perbukitan hijau, berpadu padan dengan biru-hijau warna air lautnya. Jika saja bukan karena waktu, tidak ingin rasanya meninggalkan tempat ini. Saat itu, saya merasa sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Pantai Selong Belanak.

Garis Santai Selong Belanak. Sumber: wisatadilombok.com

Garis Pantai Selong Belanak. Sumber: wisatadilombok.com

Lazimnya orang yang sedang jatuh cinta, maka akan diikuti rasa penasaran yang semakin bertambah. Lalu, saya pun mencari tahu, mengorek-ngorek mengenai pantai ini. Lalu saya dapati informasi bahwa di sekitar Selong Belanak, dan sepanjang garis Selatan Lombok, terdapat pantai-pantai yang mengagumkan. Sebut saja: Pantai Mawun, tempat berenang yang asik dengan arus pantai yang cukup deras; Pantai Seger, dengan pemandangan memukau serta tempat menarik menyaksikan sunset dari perbukitan; Pantai Tanjung Aan, tempat paling aman dan nyaman membawa anggota keluarga berenang dan bermain pasir bersih; serta Gerupuk, salah satu tempat surfing terbaik di sini. Itu belum termasuk Pantai Kuta, yang sudah kesohor lebih dulu di kalangan turis manca negara; serta Teluk Mekaki di Sekotong, tempat menyaksikan gagah dan indahnya Samudera Indonesia. Sungguh, seperti saya dan ribuan orang sebelumnya, kau akan tersihir dengan keindahannya.

Gunung, Perbukitan, dan Air Terjun, yang Membuat Lupa Pulang.

Selain pantai-pantai yang memukau, Lombok juga memanjakan dengan indahnya panorama gunung, perbukitan, serta sungai-sungai berbatu dan air terjun. Beberapa kunjungan kegiatan ke Sembalun, salah satu desa di kaki Gunung Rinjani, membuat cinta saya terbagi; antara memilih mengagumkannya pantai-pantai di selatan, ataukah sejuknya nuansa pegunungan? Mengapa tidak keduanya saja?

View Perkebunan dari Bukit Selong, Sembalun. Sumber: AndyHardiyanti.com

View Perkebunan dari Bukit Selong, Sembalun. Sumber: AndyHardiyanti.com

Panorama perbukitan, petak-petak perkebunan yang tertata rapi, serta gagahnya Gunung Rinjani yang seolah berbicara menantang, “kapan kau taklukkan aku?”, membuat setiap kunjungan ke wilayah ini adalah kunjungan penuh romantisme pribadi dengan alam ini.

Belum lagi jika berbicara tentang banyak air terjun menakjubkan, yang alirannya jatuh di sungai-sungai berbatu. Air yang dingin jatuh di hadapanmu, pecah, dan deburan airnya seperti memelukmu, dan menahanmu agar tak bergegas pulang. Sendang Gile, Tiu Kelep, Benang Kelambu, Benang Stokel, Tete Batu, dan puluhan lainnya.

Air Terjun Tiu Kelep. Sumber: AndyHardiyanti.com

Air Terjun Tiu Kelep. Sumber: AndyHardiyanti.com

Memang, untuk menikmati air terjun di Lombok harus melalui lintasan yang tidak mudah, tak pula dekat. Namun, jika cinta sudah melekat, semua jarak akan terasa dekat. Nikmati setiap langkah yang dibuat untuk mencapainya. Rasakan suasanya sejuk yang perlahan menyentuh nadimu. Padukan suara gemericik air sungai dan kicau burung menjadi lagu-lagu yang mengiringi perjalananmu. Niscaya, akan mudah mengatakan, “di sinilah tempatku”.

Manusia-manusia Lombok yang Memanusiakan.

Awalnya sangat berat bagi saya beradaptasi dengan lingkungan di Lombok. Adat istiadat dan tata krama yang sangat jauh berbeda dengan tempat-tempat saya tinggal sebelumnya, sering kali menjadi masalah buat saya. Namun perlahan, setelah banyak mengenal karakter orang-orang, banyak belajar dari kawan-kawan, saya merasa bahwa orang-orang di Lombok ini sangat menarik.

Di awal tulisan ini saya mengatakan, bahwa orang-orang Lombok lebih suka memancing ikan dan mengurusi burung ketimbang mengurusi urusanmu. Mungkin tidak 100% benar, tapi sebagian besar itu benar. Para lelaki Lombok sangat gemar memancing. Di pagi hari, mereka akan memenuhi pasar unggas, untuk melirik berbagai burung kicauan.

Bagaimana dengan wanitanya? Wanita Lombok adalah wanita-wanita yang tangguh dan pekerja keras. Ketika di tempat lain para wanita sedang meneriakkan emansipasi wanita, di Lombok para wanita sudah bergelut dengan semen dan pasir di banyak proyek pembangunan. Ya, buruh-buruh bangunan di Lombok sangat didominasi oleh kaum perempuan. Bagi mereka, emansipasi itu urusan besok, yang penting bisa ada beras untuk hari ini.

Lalu saya bertemu dengan orang-orang menarik lainnya di Lombok, yang mendedikasikan waktunya untuk mengembangkan sesama, dan membantu mereka yang membutuhkan.

Anggota Komunitas Tangan di Atas (TDA) Mataram usai melakukan pelatihan wirausaha

Anggota Komunitas Tangan di Atas (TDA) Mataram usai melakukan pelatihan wirausaha

Pertama, ada sebuah komunitas yang aktif belajar bersama meningkatkan skill dan kemampuan berwirausaha, agar menjadi manusia yang lebih baik, yaitu manusia-manusia “tangan di atas“. Sesuai nama yang mereka gunakan: Komunitas Tangan di Atas (TDA). Kegiatan edukasi kewirausahaan serta kegiatan sosial, menjadi kegiatan utama di komunitas hebat ini. Adalah sebuah keuntungan besar bagi saya diberi kesempatan ikut bergabung di sini.

Tim Lombok Forgotten Children (Endri's Foundation) dan Great Lombok Walk

Tim Lombok Forgotten Children (Endri’s Foundation) dan Great Lombok Walk

Saya mengenal pula lembaga sosial yang berisi anak-anak muda yang sangat peduli membantu mereka yang miskin dan sakit, yaitu Endri’s Foundation. Baru-baru ini bersama seorang filantropist dari Australia, mereka berhasil mengumpulkan sekitar 600 juta Rupiah, dengan aksi berjalan kaki 400km keliling Pulau Lombok. Semua demi mewujudkan sebuah “House of Hope“, yaitu rumah singgah untuk membantu anak-anak miskin, sakit, dan membutuhkan pertolongan.

Good things happen to good people. Itulah kalimat sederhana yang sering mereka ucapkan, agar tetap pada jalur kebaikan membantu sesama, sehingga segala kebaikan akan menghampiri.

Lalu, dengan semua itu, bagaimana saya tidak jatuh cinta pada pulau ini?

Luangkan sedikit waktumu mengunjungi Lombok dan sudut-sudutnya. Nikmati keindahannya, berinteraksi lebih dalam kepada orang-orang baik di dalamnya. Niscaya, cinta yang sama pasti akan kau dapati.

Mataram, 24 Oktober 2016

Bekerja online dan mengelola website. Sekarang tinggal sambil berwisata di Pulau Lombok.

7 Comments

  • mahridin amin October 25, 2016 at 12:27 am

    Jatuh Cinta sama Istri dari lombok juga dong pak,,,, isi tulisannya..
    Sweeet sweett,,, sweeet

    Reply
  • bambang parmadi October 25, 2016 at 4:04 am

    tulisannya bagus, singkat , padat, bikin penasaran.. cuma satu kekurangannya, gk masang photo saya.. ha..ha..ha…

    Reply
    • pamankecil October 25, 2016 at 6:09 am

      TDA di Pelolat

      ini di Bukit Pelolat, Bengkaung, beberapa bulan lalu. 😀

      Reply
  • Sie-thi Nurjanah October 26, 2016 at 1:33 pm

    Yaa..ampuuun cantiknya. Saya sudah lama jatuh hati dg pulau Lombok, setelah sekian tahun penantian akhirnya bs menjejak jg disana. Masih banyak yg blm dikunjungj

    Reply
    • Mustamar Natsir November 23, 2016 at 1:03 pm

      Liburan 3-4 hari gak pernah cukup untuk puas menikmati Lombok. Harus tinggal dan menetap di sini.

      Reply
  • damarojat November 2, 2016 at 8:35 am

    betul kata komentator di atas. sweet…

    Reply

Leave a Comment