bullying di sekolah dasar mataram

Bullying di Sekolah Dasar – Mataram

Kasus penganiayaan/bullying di sekolah ternyata memang benar-benar marak. Pagi tadi saya menyaksikannya sendiri.

Seperti biasa, pagi-pagi sepulang dari mengantar istri saya ke BPS Mataram, saya menyempatkan mengajak anak saya Sedja (3 tahun) untuk bermain di taman. Biasanya taman yang kami datangi adalah taman Sangkareang dan taman Udayana. Pagi tadi taman yg kami datangi adalah taman Udayana – Mataram.

bullying di sekolah dasar mataram

Taman masih sepi, tidak ada orang, ketika kami datang. Sedja pun lebih bebas bermain perosotan dan ayunan tanpa gangguan.

15 menit kemudian, datanglah rombongan siswa-siswi SD, yang mengenakan pakaian seragam olahraga. Mungkin sedang waktu pelajaran olahraga, pikir saya. Saat Sedja sedang asik bermain ayunan, sekelompok siswi ikut bermain ayunan di ayunan yg kosong. Saya sempat bertanya ke salah satu anak, “dari SD mana?”, salah satu dari mereka menjawab, “dari SD 5”, kata mereka.

Ketika mereka sedang asik bermain, datanglah seorang siswa SD (laki-laki) mendatangi seorang anak perempuan yg sedang asik berayun-ayun. Tiba-tiba, si perempuan yg masih duduk di ayunan dipegang baju bagian belakangnya oleh si anak laki-laki. Dan, *bug-bug-bug, bletak-bletok*##^&*&%^%$, si anak laki-laki menghajar kepala belakang si anak perempuan bertubi-tubi. Dan itu terjadi cuma 2 meter di depan saya.

Sontak saya menghentikan si anak laki-laki, dan memarahinya. Si anak langsung lari menjauh. Saya suruhlah si anak perempuan melapor ke gurunya. Dan si anak perempuan itu pergi ke arah gurunya, tampaknya melaporkan kejadiannya. Lalu si anak kembali ke ayunannya.

Reaksi gurunya? Tampaknya tidak ada. 😀

Lalu saya bergegas pulang. Tapi sebelumnya saya mendatangi gurunya, dan menceritakan yg terjadi. Tapi gurunya cuma bilang, “oh iya, tadi sudah dibilangi (/sudah dilaporkan oleh si anak perempuan)”. Ya, cuma itu saja.

Kalau si anak sudah melapor, tapi kok tidak ada tindakan apa-apa? Minimal terkejut kek, apa kek!

Dengan menahan jengkel, saya langsung ke parkiran, dan bersama Sedja meninggalkan taman.

Bayangkan kalau pemukulan tadi tidak segera dihentikan. Bayangkan pula kalau kejadian seperti ini dianggap biasa oleh guru. Ini bisa saja terjadi setiap hari. Bisa saja terjadi ke anak-anak kita. Bukannya kalau anak dititip di sekolah, selama jam sekolah, dan selama melakukan aktivitas yg berkaitan dgn sekolah, anak-anak itu merupakan tanggungjawab sekolah?

Ngeri juga rasanya membayangkan akan menitipkan anak saya di sekolah seperti ini.

Bekerja online dan mengelola website. Sekarang tinggal sambil berwisata di Pulau Lombok.

No Comments

Leave a Comment