Klaus Appel, pelanggan setia Hotel Kila Senggigi Beach dari Jerman

Klaus Appel: Bali – Lombok, sampai Frankfurt, Soeharto sampai Fidel Castro

Ia duduk sendirian di sana. Lelaki tua bertubuh bongsor itu. Baju kausnya mungkin ukuran XXL, namun masih saja terlihat sempit dengan ukuran tubuh seperti itu. Sesekali ia hisap rokoknya, menyeruput minumannya, sambil menikmati suasana Pasar Malam yang menjadi program rutin Hotel Kila Senggigi Beach, Lombok. Sambil menikmati hidangan makan malam bersama keluarga, saya memandangi pria itu lekat-lekat, hanya beberapa meter dari tempatnya duduk. Segan rasanya menyapa. Suasana Resto Basilico di tepi Senggigi saat itu memang sangat tenang, meski acara Pasar Malam sedang sangat ramai oleh pengunjung. Mungkin ia sengaja mencari suasana ini demi menikmati kesendiriannya.

Namanya Klaus Appel, seorang wisatawan dari Jerman. Pak Johan, kawan saya dari Hotel Kila bilang kepada saya bahwa Mr. Appel adalah pelanggan tetap di hotel ini. Sudah bertahun-tahun. Mungkin lebih dari 30-an kali ia datang berkunjung, dan pada kunjungan kali ini ia akan menghabiskan 38 hari menginap di Hotel Kila Senggigi Beach. Pasti ada yang spesial, pikir saya.

Karena penasaran, saya pun meminta izin kepada Pak Johan agar saya bisa diberi kesempatan bercengkrama dengan Mr. Appel. Mungkin ada hal-hal menarik yang bisa ia ceritakan. Terutama tentang kami, orang Lombok.

Singkat kata, esok malamnya setelah makan malam di Basilico Authentic Italian Restaurant, serta pagi harinya setelah sarapan di Resto Rinjani, dua restoran yang nyaman milik Hotel Kila Senggigi Beach, saya berkesempatan ngobrol dengan Mr. Appel. Tentunya berkat dijembatani oleh Pak Johan, yang bersama staff hotel lainnya selalu ramah dengan tamu-tamu yang datang.

Saya dan Mr. Klaus Appel di Basilico Restaurant, Hotel Kila Senggigi Beach

Saya dan Mr. Klaus Appel di Basilico Restaurant, Hotel Kila Senggigi Beach

Ternyata, Mr. Appel pun sangat senang ditanyai tentang berbagai hal. Ia pun dengan senang hati menjawab. Dengan suara yang tegas, meski dengan nafas yang sedikit terengah-engah, ia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya.

“Hai, Mr. Appel. Saya Mustamar. Saya Blogger, dan ingin sedikit ngobrol denganmu”, saya membuka pembicaraan sambil menjabat tangannya.

“Oh, tentu saja. Senang berkenalan denganmu. Dengan senang hati saya akan bercerita”, jawabnya ramah.

“Mr. Johan bilang, Anda cukup sering menginap di sini. Sudah berapa lama menjadi pelanggan di Hotel Kila?”

“Ooh. Kila? Hahaha… Saya sudah di sini jauh sebelum hotel ini memakai nama Kila. Masih Senggigi Beach Hotel, waktu itu. Sudah lama sekali. Sejak pertama saya tiba di Lombok, tidak mau menginap di tempat lain. Di sini saja”, jawabnya.

“Apakah ada yang spesial, sehingga memilih hotel ini? Bukankah masih banyak tempat lain yang bisa Anda jadikan tempat menginap?” tanya saya lagi.

“Mungkin karena lokasinya. Sangat dekat dengan pantai. Suasananya bagus. Juga taman-taman yang luas dan terawat. Dan pohon-pohon ini. Saya suka suasana tropis seperti ini. Juga makanannya. Makanan lokal tradisional Indonesia di sini enak-enak. Masih cocok dengan lidah Eropa saya. Ada nasi goreng, nasi campur, dan terutama daging yang agak pedas. Mmm.. apa itu namanya?”

“Rendang?”

“Ya, rendang! Hahahaha… Saya suka sekali itu. Sangat enak. Tapi yang terutama adalah orang-orang di hotel ini sangat ramah dengan tamu. Saya seperti sedang di rumah sendiri. Dan saya sudah berjalan-jalan keliling dunia; Thailand, Filipina, Malaysia, Maladewa, tapi cuma di tempat ini yang pelayanannya paling ramah yang pernah saya temui”.

“Benarkah?”

“Ya, benar. Di hotel ini yang paling ramah. Thailand, Filipina, Malaysia, Maladewa, Afrika, Amerika… Oh, oh, jangan pergi ke Afrika dan Amerika”.

“Mengapa?”

“Mereka tidak baik. Oh, bukan tidak baik. Saya cuma tidak cocok dengan mereka”, dia mengernyitkan dahi.

“Haha.. Oke. Saya akan mengingatnya. Terimakasih. Jadi, apa kegiatanmu sekarang?”

“Saya tidak ada kegiatan sekarang. Dulu saya bekerja, tapi sekarang tidak lagi. Sudah pensiun.”

“Lalu? Kesibukanmu?”

“Saya sedikit melakukan kegiatan charity. Terutama di bidang pendidikan. Waktu masih Soeharto menjadi presiden, anak-anak harus sekolah 9 tahun. Tapi tidak tahu kalau sekarang setelah demokrasi. Yang saya ingat, kalau sekarang saya datang di Lombok, anak-anak kecil sudah bilang ‘I have no money, mister’. Hahaha…

“Pendidikan itu sangat penting buat anak-anak ini. Dulu saya melakukannya bersama istri saya. Tapi sekarang dia sudah meninggal, jadi saya yang melanjutkannya. Saya pikir, anak-anak di sini harus belajar bahasa Inggris. Jadi saya sedikit fokus ke bidang itu. Selain itu, mereka juga harus belajar bahasa China. Kalau bahasa Indonesia, hahaha.. mereka sudah tahu lah tentang itu. Yang jelas, mereka harus belajar bahasa Inggris, lalu bahasa China. Sekarang, itu penting buat mereka jika mereka ingin tempat ini bisa dikenal di dunia. Sekarang saya mengenal Mr. Lalu Fat, seorang kepala sekolah di Mataram. Dia yang akan membantu saya di program ini”.

“Lalu, bagaimana menurutmu tentang Lombok? Apa Anda menyukai tempat ini?”

“Pertama kali saya tiba di Indonesia, saya tiba di Bali. Tapi sekarang, kalau ke Bali saya pikir sebaiknya tidak di Kuta, tidak di Denpasar. Terlalu ramai. Saya sedikit heran dengan anak-anak muda yang datang berwisata ke Bali. Mereka datang mencari tempat clubbing, mencari kupu-kupu malam. Padahal, kalau clubbing, di Frankfurt saja banyak. Kupu-kupu malam juga begitu. Banyak, lebih mudah ditemukan, dan lebih murah. Saya lebih suka di Lombok. Lebih tenang, dan orang-orang lebih ramah di sini”.

“Kalau Anda suka dengan Lombok, apakah Anda mengajak teman-teman dari negaramu juga untuk datang ke sini?”

“Tidak, tidak. Mereka kebanyakan berbeda pendapat dengan saya. Ketika mereka tahu kalau saya akan pergi ke Indonesia, mereka akan bilang ‘wah, bahaya sekali. Indonesia itu negara Muslim terbesar di dunia. Mereka itu agresif’. Lalu saya cuma bisa membuka kamera saya, memperlihatkan foto-foto ini ke mereka sambil bilang ‘ya, mereka ini memang agresif'”, katanya sambil memperlihatkan foto-foto anak-anak kecil di Lombok yang menjadi siswa didiknya.

“Jadi, seperti itu pandangan mereka terhadap orang-orang di sini?”

“Ya, seperti itu. Kebanyakan mereka cuma melihat dari satu arah. Mereka cuma tahu dari apa yang mereka lihat di TV. Padahal, tidak seperti itu realitanya. Kalau Anda ingin mengomentari tentang ajaran Islam, maka Anda harus membaca Qur’an. Saya sudah baca Qur’an, dan saya tahu kekerasan yang dilakukan orang-orang di TV itu tidak ada diajarkan di Qur’an. Kalau ada sedikit Muslim yang melakukan kekerasan, jangan menuduh semua Muslim melakukannya. Semua agama pasti melarang kekerasan seperti itu. Agama itu jadi rusak, setelah ada politik, dan uang. Dan minyak. Hahaha…”, dia menjelaskan sambil tertawa. Padahal, saya tahu dia sangat serius tentang pendapatnya itu.

Klaus Appel, pelanggan setia Hotel Kila Senggigi Beach dari Jerman

Klaus Appel, pelanggan setia Hotel Kila Senggigi Beach dari Jerman

“Lalu, apa rencanamu ke depan? Apakah ada investasi tertentu, terutama di Lombok?”

“Oh, ya. Saya punya sedikit lahan di daerah Sekotong. Tempatnya sangat bagus, di atas bukit. Saya dan istri saya dulu berencana membangun sesuatu di sana. Tapi, dia sudah meninggal”, suaranya sedikit tercekat. “Tapi saya sudah tua. 66 Tahun. Apa yang bisa dilakukan orang 66 tahun? Saya hanya ingin melakukan yang bermanfaat buat anak-anak di sini. Cuma itu yang bisa kita lakukan. Sehebat apapun kita, kita akhirnya akan kembali ke sana”, dia menunjuk ke atas. “Lihatlah Fidel Castro. Begitu hebatnya dulu dia. Kemarin dia juga meninggal. Kita semua juga akan kesana. Uang, rumah, apapun, akan kita tinggalkan. Tidak ada yang akan kita bawa, semua kita tinggalkan, selain kebaikan”.

“Benar sekali, Mr. Appel. Ini sangat bermanfaat buat saya sebagai pengingat. Saya sangat berterimakasih, dan semoga Anda senantiasa sehat”.

“Ya, sama-sama. Terimakasih atas semuanya. Semoga Anda beruntung ke depannya. Saya masih ingin menikmati suasana ini.”

Kami berjabat tangan. Dia melanjutkan menghabiskan rokok dan sisa minumannya. Saya bergegas kembali ke kamar.

Menyenangkan sekali mendapatkan obrolan dengan orang dari negara luar mengenai pendapatnya tentang negara, daerah, dan agamamu. Sebagian membuat bangga, sebagian lagi menjadi pengingat dan bahan untuk introspeksi diri.

Saya melanjutkan liburan saya yang nyaman di Hotel Kila Senggigi Beach bersama keluarga, sambil terus terngiang pembicaraan dengan Mr. Appel. Sangat beruntung saya mendapatkan kesempatan ini. Liburan saya dan keluarga pun menjadi lebih berkesan.

Untuk Hotel Kila Senggigi Beach, terimakasih untuk tempatnya yang menyenangkan, serta pelayananannya yang ramah. Sangat sesuai dengan slogan yang digunakan, “Authentic Indonesian Hospitality”.

Mataram, 29 November 2016

Bekerja online dan mengelola website. Sekarang tinggal sambil berwisata di Pulau Lombok.

No Comments

Leave a Comment