Orang Lombok itu…

Sudah 4 tahun saya tinggal di Pulau Lombok, sehingga sedikit-banyak saya mempelajari karakter dan kebiasaan masyarakat di sini. Tentunya, karakter dan kebiasaan tersebut, menarik untuk dituliskan. Selain itu, bisa pula menjadi informasi yang bermanfaat bagi pembaca yang berencana melakukan kunjungan ke Lombok.

Langsung saja. Berikut ini beberapa kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang Lombok:

Laki-laki Lombok Suka Memancing

Hal ini yang pertama kali saya simpulkan di awal-awal saya datang ke Lombok. Laki-lakinya sangat suka memancing. Tidak semua, tentunya. Tapi sangat banyak. Di pinggir-pinggir sungai, selokan, dan danau, sering kali kita mendapati ada orang duduk santai memancing. Sampai-sampai, pertandingan memancing sering sekali diadakan. Rasa-rasanya, laki-laki Lombok itu tidak tenang melihat sungai nganggur.

Lomba Memancing di Mataram

Lomba Memancing di Mataram – sumber: mataramnews.co.id

Di berbagai pertemuan dengan kawan-kawan, hal yang sering dijadikan bahan obrolan adalah soal memancing. Saat berkumpul dengan keluarga isteri dan bertemu dengan sepupu-sepupu yang laki-laki, mudah saja bagi saya untuk memulai pembicaraan: “masih sering mancing?”

Laki-laki Lombok Suka Memelihara Burung

Selain memancing, laki-laki Lombok juga suka memelihara burung: burung hias, dan burung berkicau – selain ayam aduan. Di pasar-pasar burung, pagi hari laki-laki Lombok sudah berkerumun, memperhatikan lekat-lekat aneka burung warna-warni di sangkar, atau membeli jangkrik untuk pakan burung.

Para Laki-laki Lombok di Kontes Burung. Sumber: Alamy Stock Photos

Para Laki-laki Lombok di Kontes Burung. Sumber: Alamy Stock Photos

Melihat itu semua, saya langsung berpikir untuk memulai usaha jual beli pakan burung. (yang ternyata sudah banyak pesaingnya).

Tidak heran, di berbagai tempat di pulau Lombok, sering diadakan lomba adu kicau suara burung. Salah satu jenis burung yang sering diadu kicauannya, adalah burung keceprek. Nama lainnya: Burung Puyuh. 😀

Wanita Lombok Suka Mengenakan Kain Sarung

Saya tidak tahu namanya. Yang jelas, itu kain sarung. Dipakai seperti rok, atau seperti laki-laki pakai sarung ke masjid. Bedanya, tampaknya kalau perempuan Lombok, mengenakannya lebih erat.

Wanita Lombok dan Pakaian Sehari-hari. Sumber: Istimewa

Wanita Lombok dan Pakaian Sehari-hari. Sumber: Istimewa

Saya lebih melihat pakaian ini sebagai pakaian tradisional yang digunakan sehari-hari. Kita bisa dengan mudah mendapati perempuan Lombok mengenakan pakaian seperti ini, baik di pasar, di jalan-jalan, atau ketika sedang mengurusi pekerjaan rumah.

Orang Lombok Doyan Makanan Pedas

Lalu ke urusan perut. Bagi yang sudah sering ke Lombok, pasti sudah tau bagaimana tipe kuliner di Lombok. Ya, pedas! Ayam Taliwang, pelecing kangkung, ayam pelalah, ayam rarang, bebek sambel ijo, sambel terasi, rujak Lombok, semua pedas. Rasa-rasanya, harga cabe tidak pernah melonjak di sini. Karena setiap hari, kuliner-kuliner pedas ini tetap laris manis.

Makanan Khas Lombok: Pelecing Kangkung. Sumber: foodsweety.com

Makanan Khas Lombok: Pelecing Kangkung. Sumber: foodsweety.com

Bagi pendatang dan wisatawan yang tidak kuat makan pedas, siap-siap menderita.

Orang Lombok Tidak Suka Ditolak Saat Memberi

Masih soal perut. Kalau ada orang Lombok yang mengajak atau menawarkan makanan, JANGAN DITOLAK!

Mereka sangat tidak suka ditolak saat menawarkan kebaikan (makanan). Kalau ditolak, jangan harap mereka akan menawarkan yang ke-2 kali.

Orang Lombok Suka Berderma untuk Masjid

Datang ke Lombok, maka di sepanjang jalan, di banyak tempat, akan mudah ditemui masjid. Bukan masjid-masjid kecil, tapi masjid dengan ukuran ‘wah’. Karena banyaknya masjid di pulau ini, pulau Lombok sangat identik dengan nama “Pulau Seribu Masjid“.

Islamic Center Lombok. Sumber: Panoramio

Islamic Center Lombok. Sumber: Panoramio

Apa yang membuat pulau Lombok bisa memiliki banyak masjid besar? Ternyata, masjid-masjid ini dibangun dengan dana swadaya dari masyarakat setempat. Ya, mereka sangat gemar memberikan sumbangan untuk pembangunan masjid.

Ada pengalaman saya ketika berkunjung ke rumah seorang kawan. Saat masuk waktu shalat Ashar, saya diajak shalat di sebuah masjid dusun. Masjid ini berukuran sangat besar, apalagi untuk ukuran sebuah dusun.

“Masjid sebesar ini, kalau di kampung saya setara dengan masjid kecamatan”, kata saya ke teman saya itu.

“Ini bukan masjid, bang. Ini langgar”, timpalnya.

Bah! Saya pun semakin terjengkang mendengarnya.

Orang Lombok Tidak Suka Dipegang Kepala dan Pundaknya

Kalau sedang berinteraksi dengan orang Lombok, JANGAN sekali-kali pegang kepala atau pundaknya, meski sedang bercanda, atau lawan interaksi adalah kawan dekat. Memegang kepala bisa berarti penghinaan (meremehkan), dan memegang pundak bisa berarti ‘menguasai’. Orang Lombok tidak suka itu.

Orang Lombok Menjamu Tamunya di Luar Rumah

Apabila datang ke rumah orang Lombok, jangan terkejut kalau tidak dipersilakan masuk. Hal ini agak berbeda dengan beberapa daerah lain di Indonesia yang pernah saya kunjungi, di mana biasanya tamu dijamu di ruang tamu.

Jamuan di sekenem (Berugaq bertiang 6) - Sumber: hellolombokku.com

Jamuan di sekenem (Berugaq bertiang 6) – Sumber: hellolombokku.com

Di Lombok, saat ada tamu yang datang berkunjung, biasanya tuan rumah lah yang biasanya akan keluar rumah, lalu menjamu tamunya di teras rumah, atau di berugaq, yaitu gazebo berkolong. Meski sedikit berbeda, namun sebenarnya alasan menjamu tamu di teras atau berugaq adalah agar suasanya lebih santai, rasa sungkan tamu sedikit berkurang, serta privasi tuan rumah tetap terjaga.

Jadi jangan heran kalau di banyak rumah warga Lombok, terdapat berugaq di halaman rumahnya.

Orang Lombok Tidak Suka Menunjuk dan Ditunjuk dengan Tangan Kiri!

Di banyak tempat, menunjukkan sesuatu menggunakan tangan kiri mungkin adalah hal ini biasa. Tapi, tidak di Lombok. Menunjuk sesuatu dengan tangan kiri, bisa diartikan tidak sopan. Menunjuk seseorang dengan tangan kiri, berarti menghina, menantang, atau menunjukkan kemarahan. Bisa panjang urusannya kalau begini.

Sebenarnya, menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk (tangan kiri, maupun tangan kanan), sangat jarang dilakukan oleh masyarakat Lombok. Mereka biasanya menunjuk dengan menggunakan jari jempol, untuk menunjukkan rasa menghormati.

Bingung membayangkan bagaimana menunjuk dengan jempol?

Begini caranya: 4 jari selain jempol, ditekuk ke dalam, sehingga tangan seperti seseorang yang memberi “kode jempol”. Lalu, punggung tangan dihadapkan ke arah bawah, sehingga sisi jari kelingking lebih dekat ke badan, dan jempol mengarah ke arah yang ditunjuk. Menunjuk dengan cara ini lebih disukai ketimbang menunjuk dengan jari telunjuk.

Oh iya, gunakan tangan kanan, ya!

Adat dan Tata Krama di Meja Makan

Orang Lombok Menunggu Dipersilakan, Baru Mulai Menyantap Hidangan

Apabila tuan rumah menjamu dengan hidangan makanan, orang Lombok biasanya menunggu sampai semua hidangan disajikan, namun tidak akan mulai menyantap makanan sampai tuan rumah atau orang setempat bilang “silaq”. Silaq (penyebutannya terdengar seperti sila’), adalah ungkapan untuk mempersilakan orang lain melakukan sesuatu. Dalam hal ini: menyantap makanan.

Orang Lombok Tidak Cuci Tangan Sesudah Makan…

Lho? Serius?

Serius! Orang Lombok itu tidak cuci tangan kalau selesai makan… sampai orang yang lebih tua selesai makan dan mencuci tangan terlebih dahulu.

Ya! Ini adalah salah satu etika saat makan. Terutama bagi yang masih muda, harus paham aturan ini. Apabila selesai menyantap makanan, JANGAN langsung mencuci tangan. Tapi, tunggu dahulu orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati, selesai makan dan mencuci tangan, baru kemudian yang muda mengikuti.

Saya pernah punya pengalaman kurang menyenangkan soal ini. Saat pertama kali datang di Lombok, saya makan di rumah calon istri saya waktu itu. (Sekarang sudah bukan calon lagi). Lalu, saya makan bersama-sama dengan keluarga besar. Saya menyantap makanan dengan lahapnya. Maklum, baru menempuh perjalanan jauh dari kota Makassar.

Saya memang terbiasa makan cepat, tidak pakai basa-basi. Makan ya makan. Tidak urusi yang lain saat makan, kecuali makan itu sendiri. Sehingga, biasanya makan saya cepat selesai.

Singkat cerita, makan saya tuntas. Dari belasan yang makan saat itu, saya yang paling dulu selesai. Lalu, saya cuci tangan di kobokan, kemudian berdiri dan beranjak meninggalkan tempat makan.

Sejurus kemudian, semua orang di ruangan mendadak berhenti makan.

Berikutnya, tersisa rasa canggung di seisi ruangan. Semua orang saling lirik-lirik penuh makna. Ternyata orang-orang tua di ruangan itu sudah tersinggung berat atas apa yang baru saja saya lakukan. Tapi beberapa bisa memaklumi, karena ketidaktahuan saya.

Sejak itu, hal ini jadi pelajaran penting buat saya selama tinggal di Lombok.

Demikian tulisan ini. Seiring hari, dengan bertambahnya pengalaman saya tinggal di pulau Lombok, saya akan mengupdate terus halaman ini. Mohon maaf apabila ada hal yang tidak berkenan dari tulisan ini. Saya selalu terbuka untuk dikoreksi.

Tulisan ini sudah divalidasi oleh kawan saya, Mahridin Amin, orang Lombok tulen, owner Pizza Pinter. Pizza Pinter adalah pionir kuliner Pizza dengan cita rasa khas Lombok yang nikmat, dijamin ENAK! Kalau berminat, silakan akses halaman facebooknya: http://fb.com/dcafe.pinter. Lokasi di kota Mataram.

Foto Pizza Pinter by Mahridin Amin.

Pizza Pinter by Mahridin Amin. Kalau ownernya menawarkan ini, JANGAN ditolak!

Semoga bermanfaat. Baca pula tulisan-tulisan saya lainnya di topik Lombok.

Mataram, 18 November 2016

Bekerja online dan mengelola website. Sekarang tinggal sambil berwisata di Pulau Lombok.

4 Comments

  • Mahridin November 19, 2016 at 1:45 pm

    Keren….
    Saya asli orang lombok menyatakan ini keren

    Reply
  • baiqrosmala December 16, 2016 at 6:51 am

    satu lagi pak, orang lombok yang tinggal di desa sukanya mandi di kali, walaupun di rumahnya sudah ada kamar mandi, hehe

    Reply
    • Mustamar Natsir December 18, 2016 at 3:33 am

      berarti sudah divalidasi lagi oleh orang Lombok asli. 😀

      Reply

Leave a Comment