Pengalaman Mogok dan Tatapan Para Monyet

Pernah gak sih, kamu merasa jengkel sekali karena kendaraan mogok di tengah jalan tanpa tau penyebabnya, dan mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari warga sekitar? Widih… Saya pernah, dan saya akan menceritakan 1 pengalaman mogok yang paling menjengkelkan yang pernah saya alami.

Begini ceritanya,… Dengarkan baik-baik…

Jadi saya saat ini punya suatu pekerjaan rutin di Gili Air, sebuah pulau kecil di Kabupaten Lombok Utara. Jaraknya, sekitar 40 kilometer dari tempat saya tinggal di Kota Mataram, dan harus menyeberang laut. Tapi bukan menyeberangnya yang ingin saya ceritakan. Tidak ada hubungannya.

Yang ingin saya ceritakan adalah perjalanan pulang-pergi, dari rumah saya ke pelabuhan Bangsal, (pelabuhan penyeberangan utama untuk ke Gili Air dan gili-gili lain di sekitarnya) yang harus melalui daerah bernama Pusuk. Pusuk merupakan puncak bukit, yang harus dilewati jika ingin menuju ke Lombok Utara dari Kota Mataram, atau sebaliknya. Jalur ini: menanjak, meliuk-liuk, berbatu, bertebing, berjurang, melintas hutan, dan di kanan kiri penuh monyet-monyet liar. Daerah ini memang terkenal karena keberadaan ratusan monyet-monyet liar yang beraktivitas di kanan kiri jalan.

Nah, agar perjalanan melalui daerah Pusuk ini aman dan nyaman, pastikan fisik sehat (karena cuaca agak dingin, teruma saat pagi hari), dan fisik kendaraan juga sehat. Jangan seperti yang saya lakukan: suatu hari, saya sedang ada pekerjaan di Gili Air, sehingga harus berangkat ke Lombok Utara dari Kota Mataram, melintasi jalur Pusuk ini. Perjalanan perginya oke. Aman. Tapi perjalanan pulangnya, oh maamaaa… Motor mogok! Di tengah jalan, tengah hutan, tanjakan, sisi jurang! Yang paling mendebarkan, adalah tatapan puluhan monyet-monyet liar. Ada yang menatap cuek, ada yang menatap sinis, ada pula yang menatap bengis, seolah-olah sambil berbicara “you came to the wrong neighborhood…“. Tapi yang paling menjengkelkan adalah, sebagian besar dari mereka menatap lirih, namun bibirnya menyiratkan tawa penuh penghinaan kepada saya. Kau bisa bayangkan betapa malunya saya waktu itu.

Daripada terus memikirkan pandangan monyet-monyet itu, saya dorong saja motor saya. Menaiki tanjakan, sambil permisi kepada monyet-monyet itu. Pilihan itu saya pikir yang terbaik yang bisa saya lakukan. Putar balik ke jalan sebelumnya mungkin sudah tidak mungkin, karena sudah cukup jauh. Jalan terus mungkin lebih baik. Meski jalurnya menanjak, jaraknya masih sedikit lebih dekat.

Satu kilometer saya mendorong motor, melalui tanjakan, menahan nafas dan rasa malu (kepada monyet-monyet itu). Akhirnya saya tiba di puncak, di mana orang-orang sudah mulai ramai karena sudah ada pedagang. Dan ada bengkel kecil di situ. Alhamdulillah. Maka saya hampirilah bengkel kecil itu.

“Kenapa motornya, bang?”, tanya si montir. Saya melihat senyum tipis sempat tersungging di bibirnya. Saya yakin, dalam hatinya menertawai saya. Saya yakin itu!

“Mogok. Tidak tahu kenapa, nih”, saya menjawab seadanya. Saya yakin, dia tadi menertawai saya. Saya masih belum rela.

Lalu tanpa basa-basi lagi, si montir mulai memeriksa. Stater dipencet, tidak ada respon. Perapian dicek, dia bingung. Lalu berkata, “kenapa tidak telpon GS Astra Delivery saja, Bang? Mungkin ini akinya yang perlu dicek. Kan sekarang sudah ada layanan Shop N Drive? Tinggal telpon, nanti petugasnya yang datang kesini. Di Mataram juga sudah ada kok, Bang. Di mana-mana sudah ada. Gak perlu repot dorong kalau mogok”.

Lalu saya duduk termenung, menertawai kebodohan saya. Bodoh karena ketidaktahuan. Terlambat mendapat informasi. Montir yang saya yakin tadi menertawai saya itu, pasti tertawa karena alasan ini.

“Oke kalau gitu. Telponkan GS Astra Delivery sekarang. Saya sudah tepar, ini”.

“Siap, Bang”.

Salah satu outlet Aki GS Astra. Sumber: blognyamitra.wordpress.com

Salah satu outlet Aki GS Astra. Sumber: blognyamitra.wordpress.com

Bekerja online dan mengelola website. Sekarang tinggal sambil berwisata di Pulau Lombok.

No Comments

Leave a Comment